Mencipta karya sastra seperti cerpen, novel, esai, puisi, bukanlah pekerjaan mudah bagi para sastrawan, mahasiswa, guru, dosen, politisi, jenderal, hingga para pejabat tinggi di negeri ini. Sebab, dalam prosesnya membutuhkan ketekunan, kesabaran, keluasan wawasan, keanekaragaman gagasan, kebeningan dan kedalaman berpikir, keterbukaan hati, kepekaan rasa, kreativitas prima, juga penguasaan bahasa yang cukup sebagai media ekspresinya. Maka, ketika sebagian warga binaan LP Wirogunan, Yogyakarta, mencoba belajar mencipta puisi seperti terkumpul dalam antologi ini rasanya kita tengah menyaksikan sebuah prestasi yang luar biasa indahnya. Apalagi, besar kemungkinan antologi puisi ini adalah antologi puisi pertama yang lahir dari balik tembok LAPAS di Indonesia. Dicipta oleh mereka yang tengah nggentur tapa dan mesu budi, berkutat menemukan jalan terang yang bakal ditempuhnya kelak kemudian hari. Setelah hampir lima puluh tahun “menikahi puisi”, saya berani menyatakan bahwa pu...
Menghidupkan Sastra dan Kebudayaan