Sebagai penyair, Marjuddin Suaeb, meski tidak memiliki laptop atau computer PC, masih terus melakukan kegiatan menulis puisi, bahkan puisinya mengalir seperti sungai Progo. Mungkin karena dia tinggal di Lendah, Kulonprogo, sehingga mendapat inspirasi dari sana. Bagaimana Marjuddin menulis puisi kalau tidak memiliki perangkat computer? Inilah yang menarik. Marjuddin menulis puisi melalui HP sehingga ketika HP-nya hilang, dan ini pernah dialamimya, semua puisinya ikut hilang. Marjuddin memang sudah lama menulis puisi. Sejak pertengahan tahun 1970-an dia sudah menulis puisi. Ia ju-ga ikut Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi. Ketika dia kuliah di IKIP Negeri Yogyakarta, sekarang UNY, ia seperti mendapatkan atmosfir untuk menulis, selain teman-temannya satu jurusan banyak yang menulis puisi, pergaulan di Yogya memberi semangat untuk rajin menulis puisi, dan pada waktu itu media cetak memberi ruang untuk puisi, se-hingga menumbuhkan gairah Marjudin menulis puisi. Marjuddin Su...
Menghidupkan Sastra dan Kebudayaan