Cerpen Kurnia Effendi Aku dan Halimun sudah berlari sangat jauh. Hanya karena takut yang kelewat batas membuat kakiku demikian kuat. Tak kupikirkan lagi pelbagai rintangan yang membikin sejumlah luka pada tubuhku. Aku bahkan merasakan pakaianku sudah mendekati compang-camping karena tersangkut duri, ranting, beberapa kali pula tergores bebatuan tajam yang menjorok di dinding tebing. “Aku tidak kuat lagi,” kataku dengan napas nyaris putus. Halimun yang berada sekian langkah di depanku menoleh dan berhenti. Ia sama sekali tak terlihat ngos-ngosan. Hanya ada titik-titik keringat di kening, leher, dan sebagian punggung, rembes ke pakaiannya. “Jadi, apa pilihanmu?” Halimun mendekatiku. “Mereka mencari nama Marmudi! Kamu satu-satunya pemilik darah ungu yang akan disembelih sebagai obat sang raja lalim yang sedang sakit.” “Kita sudah delapan jam berlari tanpa henti. Bala tentara mereka takkan melanjutkan pengejaran.” Aku bukan hanya duduk, melainkan terka...
Menghidupkan Sastra dan Kebudayaan