Editor: Indro Suprobo, Ons Untoro
MENULIS karya fiksi, dalam konteks ini cerita pendek (cer-pen), bisa mengambil inspirasi dari banyak tempat. Meskipun fiktif, bukan berarti cerpen tidak bisa berangkat dari fakta. Banyak cerpen yang diilhami kisah nyata, dibingkai dalam imajinasi, se-hingga menjadi lebih hidup.
Para penulis cerpen dalam buku ini, yang berasal dari berbagai kota di Indonesia, menulis cerita pendek bertema museum. Berbagai kisah dituliskan, tentang salah satu benda koleksi museum atau yang bertautan dengannya, pertemuan dengan kawan atau relasi yang kemudian dirangkai menjadi kisah menarik. Pilihan tema museum layak diapresiasi mengingat museum menyimpan begitu banyak fungsi, peran, manfaat/keuntungan.
Secara umum museum adalah gedung yang digunakan seba-gai tempat untuk pameran tetap benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, benda seni, dan ilmu; tempat menyimpan barang kuno atau benda bernilai tinggi dan memiliki daya tarik dalam jangka panjang. Pengelolaan dan pengoperasian museum biasanya dilakukan secara nirlaba, dibangun secara permanen, dengan mengadakan pameran regu-ler dan terjadwal, serta dibuka untuk umum pada waktu tertentu untuk menarik minat publik.
Tujuan pendirian museum bervariasi, ada yang cenderung ke arah pendidikan ada pula untuk konservasi. Namun pada dasarnya bertujuan untuk mengoleksi, memelihara, menginter-pretasi, memajang/memamerkan benda artistik yang memiliki nilai budaya serta memiliki makna ilmiah untuk maksud studi/pembelajaran dan edukasi publik. Ditinjau dari jenis koleksi ben-da yang dipajang/dipamerkan, ada banyak ragam museum di antaranya: museum seni, arkeologi, sejarah, biografi, universal/ensiklopedi, etnologi, biografi, alam, sains dan teknologi, maritim, militer dan perang, dan memorial museum atau museum pering-atan.
Museum memiliki berbagai fungsi di antaranya, tempat me-nyimpan, merawat, memelihara, memajang, memamerkan, menafsirkan benda peninggalan sejarah, benda seni, spesimen sains, wahana penelitian dan pembelajaran, hiburan rekreatif yang mengilhami. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sebuah museum, merupakan wahana penelitian dan studi ten-tang wawasan budaya bangsa sekaligus pusat informasi yang bersifat edukatif, kultural dan rekreatif, reflektif serta diharapkan menimbulkan kesan menyenangkan dan pengalaman menakjub-kan.
Adapun sejumlah perannya meliputi edukasi, promosi pem-belajaran, pembinaan dan pemahaman lebih mendalam tentang berbagai subjek termasuk menawarkan hands on learning (rancangan pembelajaran yang melibatkan siswa didik secara inklusif dimulai dari menggali informasi, bertanya, beraktivitas, menemukan hingga menyimpulkan, pengalaman interaktif, dan eksplorasi); repositori pengetahuan dan warisan budaya, pemeliharaan, pemajangan benda seni dan dokumen sejarah sehingga memungkinkan para pengunjung dapat terhubung dengan sejarah, seni, sains dan subjek bermakna lain secara nyata; rekonsiliasi masyarakat, pembentukan identitas nasional, pemulihan kejadian traumatik dalam sejarah; berkontribusi dalam kelangsungan hubungan bilateral dan meningkatkan kebijakan serta citra negara; diplomasi budaya dan soft power yakni berusaha menarik perhatian melalui kecerdasan emosional, karisma, komunikasi persuasif, daya tarik ideologi visioner serta pengaruh budaya.
Sebuah museum yang baik dan ideal biasanya memiliki ciri se-bagai berikut, berupa organisasi legal atau lembaga publik nirlaba, memiliki misi jelas; bagian dari entitas pemerintah dikelola secara permanen untuk tujuan pendidikan, warisan budaya dan tujuan estetika; memiliki sumberdaya manusia profesional di bidangnya guna menangani tugas-tugas sebagai register, curator, conservator, preparator, educator, pemandu merangkap interpretator, humas dan pemasaran serta dipimpin seorang Direktur sebagai pe-nanggungjawab tertinggi museum; mengutamakan edukasi tentang alam, sains dan sejarah, menggunakan dan mengin-terpretasikannya melalui pameran secara reguler dan terjadwal; memiliki program formal untuk dokumentasi, perawatan, pe-manfaatan koleksi dan objek; memiliki sumber finansial memadai untuk beroperasi secara efektif; memenuhi standar permuseuman nasional atau internasional.
Karya para penulis cerpen ini mengambil inspirasi dari museum yang ada di Indonesia atau negara lain, seperti sedang melakukan ulang alik antara fakta dan fiksi. Para penulis berangkat dari fakta yang ditemukan di museum, kemudian menuangkannya dalam bentuk cerpen. Narasi dalam setiap cerita tentu saja tidak menanggalkan imajinasi, sehingga benda koleksi museum yang beku dan menyejarah, menjadi terasa jauh lebih bernyawa.