Editor: Indro Suprobo
Simposium Jokowi, Pebisnis Politik Menggapai Indonesia Emas, yang selanjutnya disebut Simposium Jokowi, adalah sepuluh kumpulan esai yang ditulis oleh Riwanto Tirtosudarmo, yang sekaligus merupakan laku untuk menegaskan peran sebagai cendekiawan organik sebagaimana dinyatakan oleh Gramsci. Melalui sepuluh esainya, Riwanto Tirtosudarmo berupaya mengambil jarak, mencermati, mengi-dentifikasi, membaca perangai kekuasaan secara kritis dan menyampaikannya kepada publik sebagai salah satu langkah pendidikan kritis.
Simposium Jokowi adalah sebuah pilihan sikap moral cendekiawan organik karena merupakan pilihan keberpihakan dan dengan demikian merupakan penolakan terhadap ketidakpedulian atau indifference. Simposium Jokowi meru-pakan bagian dari tindakan intelektual yang mempertanyakan, mengguncang keyakinan dan kepastian mitologis tentang kekuasaan, mencermati perilaku dan mengungkap motif-motifnya, menguraikan dan menggambarkan pola-polanya, serta menyuguhkan kemungkinan-kemungkinan dampaknya bagi kehidupan publik dan generasi kemudian. Mengutip pandangan Slavoj Zizek, melalui Simposium Jokowi, Riwanto Tirtosudarmo sebagai cendekiawan organik sedang berupaya untuk mengingatkan publik bahwa tugas para filsuf dan filsafat, bukanlah untuk memberikan jawaban, melainkan untuk menunjukkan bahwa cara memahami realitas atau persoalan itu sendiri dapat menjadi bagian utama dari persoalan. Dengan demikian, Simposium Jokowi adalah sebuah cara lain, sebuah alternatif cara memahami realitas kekuasaan yang ditawarkan oleh Riwanto Tirtosudarmo, di tengah kecenderungan common sense yang menganggap bahwa kekuasaan yang sedang berlangsung adalah baik-baik saja. Dalam hal ini, common sense yang menganggap bahwa kekuasaan yang sedang berlangsung itu baik-baik saja adalah cerminan dari apa yang oleh Gramsci disebut sebagai indifference dan yang oleh Zizek disebut sebagai bagian dari persoalan itu sendiri.