Di tengah riuhnya kecerdasan buatan atau yang sering disebut sebagai Artificial Intelligence (AI), orang sering menggunakannya untuk berkarya, lalu merasa seolah-olah sudah menciptakan sebu-ah karya. Dua puluh tiga perempuan, yang tinggal di kota berbeda-beda, salah satunya tinggal di Jepang, memilih menggunakan kecerdasannya sendiri untuk berkarya. Mereka memilih cerita pendek sebagai karya mereka.
Ada baiknya, kita sejenak memasuki ruang sunyi dan di sana kita bisa menemukan keheningan, sehingga apa yang dikenali se-bagai ruang sunyi sesungguhnya bukan kekosongan. Ruang sunyi itu adalah sastra, dan sastra meskipun berupa fiksi, seringkali ber-awal dari kenyataan. Maka, ada karya sastra yang ditulis berda-sarkan hasil riset. Ini artinya, karya sastra tidak berangkat dari ru-ang kosong, meskipun berasal dari tempat sunyi.
Dua puluh tiga cerpen karya perempuan ini, tidak berangkat dari ruang kosong. Ia mengawalinya dari kenyataan, meskipun ti-dak selalu dari kisah dirinya, melainkan bisa dari kisah temannya, tetangganya, bahkan saudara atau orang tuanya. Kisahnya tentang perempuan, yang ditulis oleh perempuan. Dalam konteks ini pe-rempuan bukan dalam pengertian personal, melainkan eksisten-sial, sehingga perempuan tidak menunjuk nama orang.
Di dalam cerpen-cerpen di buku ini, perempuan sering disebut sebagai wanita, namun ada juga yang disebut sebagai perempuan. Dalam tulisan ini dipilih kata perempuan, karena kata dasar ‘empu’ memiliki makna lebih mendalam, sementara wanita kata dasarnya ‘wan’, yang artinya nafsu. Pemilihan kata perempuan ini merupakan upaya menempatkan subyek pada posisi yang memi-liki makna.
Kisah dalam cerita ini menyangkut aneka persoalan perem-puan, namun bukan berarti bahwa perempuan adalah sumber masalah. Selalu, masalah itu berkaitan dengan relasinya, dalam hal ini laki-laki. Dengan demikian, masalah perempuan berkaitan dengan relasinya. Kisah-kisah persoalan perempuan itulah yang ditulis dalam cerpen. Kisah-kisahnya tidak selalu memperten-tangkan hubungan antara perempuan dan laki-laki, namun lebih menyajikan persoalan dalam kehidupan, yang di dalamnya terda-pat relasi dengan laki-laki.
Kita tahu, sesungguhnya perempuan tidak bisa hidup sendiri, selalu ada relasi yang menyertai. Namun kehadiran laki-laki acap-kali menghadirkan masalah bagi perempuan. Di sisi yang lain, laki-laki memberi imbangan dalam kehidupan perempuan. Dalam kata lain, betapapun kuat masalah perempuan dengan relasinya, di ruang yang sunyi, selalu ada rindu terhadap relasinya itu.
“Kubenamkan wajahku di dadanya, air mataku mengalir karena merasa lega...” ini kalimat terakhir dari novel Memoar Seorang Dokter Perempuan karya Nawal el-Sadawi, pengarang dari Mesir, diterbitkan Obor (1990)
Aku dalam cerpen tidak selalu menunjuk aku penulis. Ia bisa menunjuk ‘aku perempuan’, sehingga aku tidak harus dipahami se-cara personal, melainkan bisa institusional dan eksistensial. Jadi, kalau aku cerpen sedang dibelit persoalan, artinya aku perempuan yang dibelit persolan.
Meskipun cerpen merupakan karya fiksi, nama-nama tokoh dalam cerpen tidak harus selalu fiktif, bisa menggunakan nama temannya, keluarganya, dan tidak harus selalu dimengerti nama faktual, demikian juga nama-nama tempat, bisa menunjuk nama yang dikenali, setidaknya seperti bisa ditemukan dalam cerpen-cerpen karya Budi Dharma, misalya dalam bukunya berjudul Ny.Talis. Atau juga pada novel Ashadi Siregar berjudul Sunyi Nir-mala terbit pertama tahun 1982. Tokohnya menggunakan nama temannya yang dikenalnya, misalnya Pak Dhakidae dan Boyke. Kita kutipkan petikannya.
“Boyke terbatuk menahan ketawa. Lelaki gendut itu, Pak Dhakidae, orang Flores yang pernah sekolah pastor dan belajar pedagogi di Nederland, mengingat-ingat teori yang tepat buat menghadapi remaja-remaja badung ini. Tapi otaknya pepat. Dia hanya ingat, harus bersikap edukatip. Harus bersikap mendidik, pikirnya.”
Menulis cerita fiksi, cerpen atau novel, meskipun penuh imajinasi, seringkali menyuguhkan pemikiran yang ditebarkan melalui tokoh-tokohnya sehingga ketika orang membaca, orang mengenali sebagai pemikiran, seolah bukan sebagai karya fiksi. Pemikiran-pemikiran itulah yang, sesungguhnya menarik setiap kali kita membaca karya sastra. Tokoh dalam cerpen atau novel, seolah hidup dalam kenyataan, setidaknya seperti Minke dan Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, atau Lantip dalam Para Priyayi-nya Umar Kayam, atau ‘Tondi’ dalam novel Menolak Ayah karya Ashadi Siregar.
Rahasia Ibu
23 cerpen karya perempuan, yang menyajikan kisah perempuan ini, perlu diberi judul yang memberi identitas perempuan, salah satu judul yang menunjuk identitas itu cerpen karya Savitri Dama-yanti berjudul Rahasia Ibu. Maka, judul cerpen itu kita pilih men-jadi judul buku, karena kita anggap mewakili kisah-kisah dari semua cerpen.
Perempuan tidak pernah lepas dari ibu, bahkan akan menjadi ibu. Penulis perempuan ini kebanyakan seorang ibu, ada juga yang janda. Hanya satu yang (masih) gadis, tapi dia memiliki ibu. Dengan demikian, sebut saja, para ibu ini sedang menuliskan dirinya sendiri, sekaligus menuliskan ibunya.
Ibu siapa? Itulah soalnya. Bisa ibunya sendiri, ibu tetangga, ibunya teman. Bisa juga Ibu (Kota Nusantara) yang belum tuntas. Ibu selalu menunjuk perempuan, dan perempuan tidak harus lembut, bisa tegas, bisa juga kejam sehingga perlu membunuh rela-sinya dalam kisah cerita cerpen.
Pendek kata, buku kumpulan cerpen Rahasia Ibu merupakan cerita (tentang) perempuan (dan laki-laki) dari perempuan yang, sudah menjadi ibu, bahkan nenek.
Menyuguhkan Kejutan
Yang menarik, sebagian dari kisah-kisah di dalam cerita pendek ini menghadirkan kejutan-kejutan bagi pembaca. Tak disangka, tak diduga, pada bagian akhir cerita, pembaca seringkali dibuat terpana karena penulis menghadirkan kejutan yang luar biasa. Kejutan-kejutan semacam ini memberi tanda bahwa penulisnya sangat lihai menyusun cerita. Kejutan-kejutan ini sekaligus menjadi cermin bahwa kehidupan nyata yang seringkali merupakan inspirasi dan landasan bagi cerita, juga merupakan realitas yang seringkali mengejutkan, tak pernah terduga, tak pernah dinyana, apalagi disusun sebagai rencana. Kehidupan nyata yang menjadi inspirasi cerita kadang-kadang menyuguhkan peristiwa-peristiwa yang jalinan relasinya menyimpang dari yang semestinya, tak sesuai kesepakatan tata hidup bersama atau norma-norma, bahkan menghadirkan persoalan besar dari sisi etika.
Kejutan-kejutan yang dihadirkan di dalam cerita-cerita pendek ini, tidak selalu harus diberi analisis jawaban atau solusi, melainkan sekedar menyuguhkan bahwa kehidupan nyata seringkali memiliki banyak wajah dan sisi. Kejutan-kejutan yang dihadirkan dalam cerita-cerita pendek ini, menjadi tamparan, gugatan, hentakan, atau persimpangan yang mengajak pembaca untuk berhenti, ber-tanya diri, melakukan refleksi (dari kata Latin re-flectere, yang berarti mematahkan lagi, membengkok, atau menengok kembali), dan mencermati secara lebih teliti, mengapa bisa begini, bagaimana mungkin menjadi seperti ini?
Dengan demikian, cerita-cerita pendek yang menyuguhkan kejutan-kejutan, dapat dibaca sebagai cerita-cerita pendek yang mengajak pembaca untuk menikmati suatu "perhentian", sebuah ruang transit dalam kehidupan, agar gerak yang barangkali telah terlalu cepat itu dilambatkan, agar ketergesa-gesaan hidup ini dipe-lan-pelankan, lalu selanjutnya dipandang, dihayati, dinikmati, di-rasakan, direnungkan, dikunyah-kunyah, dicecap-cecap sampai ditemukan sesuatu yang merupakan inti di kedalaman.
Cerita pendek sebagai karya sastra yang pada umumnya dilahirkan dari rahim keheningan dan kesunyian, juga merupakan medium bagi pembaca untuk menikmati perhentian, lalu menyelami keheningan dan kesunyian.
Silahkan memasuki ruang sunyi sambil menikmati cerita-cerita pendek di dalam buku ini.
Ons Untoro & Indro Suprobo